leaderboard

Acara dan Kegiatan

Acara dan Kegiatan

Lestarikan Budaya Banjar, Mahasiswa KKN Desa Sungsum ikut membantu acara Baayun Maulid

Lestarikan Budaya Banjar, Mahasiswa KKN Desa Sungsum ikut membantu acara Baayun Maulid

BALANGAN, Tradisi Baayun Maulid, sebuah ritual khas Suku Banjar yang sarat makna, kembali dilaksanakan di Desa Sungsum, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan. Tak sekadar perayaan biasa, acara kali ini menjadi lebih istimewa dengan kehadiran para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Antasari yang turut membantu warga dalam persiapan maupun ikut membacakan shalawat syair-syair dan doa. Kehadiran mereka seolah menjadi napas baru yang menghidupkan kembali tradisi yang mulai tergerus zaman.

Acara Baayun Maulid ini dilaksanakan di kediaman Nini Mastah, seorang tokoh masyarakat yang berusia 67 tahun. Baayun Maulid yang diadakan oleh Nini Mastah tergolong unik, karena dua cicitnya yang baru lahir merupakan sepasang anak kembar laki-laki. Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan begitu terasa, di mana ayunan yang dihias dengan kain warna-warni dan anyaman daun menjadi pusat perhatian. Alunan salawat dan syair-syair maulid bergema, mengiringi setiap ayunan yang diberikan kepada kedua bayi kembar tersebut.

Nini Mastah mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini. "Memang sudah dari dahulu keluarga kami selalu mengadakan Baayun Maulid untuk anak, cucu, dan cicit yang baru lahir," tuturnya dengan senyum hangat. Ia mengatakan, tradisi ini adalah bentuk rasa syukur dan doa agar cicitnya tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan bermanfaat bagi agama serta masyarakat. 

Beliau juga mengatakan, "Acara baayun Maulid ini sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang kami, dari keturunan Datu-Datu. Kami melaksanakan acara ini sebagai acara yang wajib dilaksanakan oleh keluarga kami," kemudian beliau meneruskan, "Tujuan dari acara ini adalah untuk mengambil berkah dan memohon perlindungan kepada Allah SWT, serta untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kami percaya bahwa dengan melaksanakan acara ini, kami akan dijauhkan dari bala-bala dan penyakit-penyakit keturunan," tambah nenek tersebut. Ia kemudian menceritakan tentang cucu yang lahir di Samarinda saat kelas SMP bersilaturahmi ke desa Sungsum, wayah itu jua diulah acara baayun maulid walaupun sdh ganal tetap wajib baayun maulid"

Selain itu, dalam acara ini terlihat pula "piduduk" yang disusun rapi, berisi beragam sesaji seperti kelapa, gula merah, dan beras. Piduduk ini menjadi simbolis dan pelengkap tradisi yang dipercaya dapat menolak bala. Kehadiran mahasiswa KKN tak hanya membantu dalam persiapan acara, tetapi juga aktif berbaur dan berinteraksi dengan warga, membuat suasana semakin hidup.

Ridhoni, Perwakilan Mahasiswa KKN yang terlibat dalam acara tersebut menyampaikan pengalaman perdananya menyaksikan langsung kegiatan.

“Alhamdullah saya dapat menyaksikan acara ini pertama kali secara langsung, yang mana sebelumnya hanya mendengar dari mulut ke mulut, suasananya sangat syahdu dengan lantunan shalawat dan doa.” Selain itu, antusiasme masyarakat Desa Sungsum pun juga sangat tinggi, karena menurut salah satu warga, acara semacam ini sudah mulai jarang ditemui di daerah mereka, sehingga kehadiran Baayun Maulid ini menjadi momen berharga yang dinantikan,"ujarnya

Bagikan:
Administrator

Administrator

HABARMU adalah portal berita terpercaya yang menyajikan berbagai informasi terkini, akurat, dan terverifikasi kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menghadirkan berita yang faktual, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga pembaca dapat memperoleh informasi yang jelas, relevan, dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan