Martapura – PP Muhammadiyah Dalam Keputusan untuk menerima Izin Usaha Pertambangan (IUP) dalam konsolidasi nasional. Muhammadiyah secara kelembagaan memang menerima usulan dari Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.
Adapun tanggapan lain dari Ustadz Ahmad Tsaaqib,M.Ag selaku Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PD Muhammadiyah Kabupaten Banjar ini menyampaikan, “Setelah mengamati dan mempelajari hasil keputusan PP Muhammadiyah baik dari Konferensi Pres ataupun dokumen yang dipublikasikan. Penerimaan IUP tambang harus dilihat secara holistik dan jangan sampai hitam putih. Sebagaimana diketahui dunia pertambangan memang sangat problematik apalagi jika dikaitkan dengan isu lingkungan, tidak dapat dipungkiri persoalan sosial, ekonomi dan politik terseret dari kepentingan para oligarki. Namun, dunia pertambangan seakan belum pernah tersentuh aliran dakwah didalamnya, karena banyak orang yang mengutuk dan berkampanye untuk menghindari dunia tersebut. Hal ini membuat dunia pertambangan jauh dari spirit dakwah dan keteladanan spiritual dalam pengelolaan SDA.” (29/07/24)
Kemudian Ustadz Tsaaqib juga menyampaikan “Rasulullah juga pernah menekankan jikalau kamu melihat praktek kedzaliman, ubah atau perbaikilah dengan tanganmu, jika tidak memiliki kemampuan ucapkanlah dengan lisanmu, atau jika tidak mampu maka bencilah praktek itu dalam hatimu, tapi itulah selemahnya iman. Ketika melihat betapa rusaknya pengelolaan tambang, kita tidak memiliki kuasa untuk memperbaiki, ribuan dan jutaan mimbar telah menyuarakan untuk menjaga lingkungan dengan tujuan melahirkan hidup yang adil serta makmur. Tatkala ada kesempatan sebagai tantangan lahan dakwah baru Muhammadiyah maka inilah saatnya melakukan nahi mungkar, memberikan keteladanan dalam mengelola SDA yang berorientasi pada keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Pemberian IUP kepada ormas juga jangan dipahami sempit sebagai asumtif dan prasangka buruk, bisa jadi ini menjadi langkah awal agar ormas juga dapat secara nyata melakukan aktualisasi spirit al-Qur'an tentang menjaga lingkungan dan menghadirkan kehidupan sosial yang adil dan makmur.”
Walaupun, Muhammadiyah ketika diberi IUP bukan berarti bisa mengatur semua praktek pertambangan di Indonesia, tapi percayalah ruangan yang gelap pekat ketika diberi lubang kecil maka cahaya matahari akan masuk kedalamnya dan mengubah keadaannya. Muhammadiyah telah berkomitmen dalam 1 abad lebih untuk tetap berpihak pada persoalan rakyat, kepentingan umat dan bangsa. Komitmen ini perlu diwujudkan dan dihadirkan dalam pengelolaan tambang. Buya Syafi'i pernah mengatakan bahwa Muhammadiyah dari awal sudah menjadi pembantu negara, khususnya dalam pendidikan dan kesehatan, kedepan saatnya Muhammadiyah menjadi penentu negara.
Maka inilah dakwah bil-siyasah Muhammadiyah yang saya pahami. Muhammadiyah kedepan harus menjaga komitmen tersebut secara transparan dan menjadi pembeda dalam langkah dakwahnya, kemudian tetap berorientasi pada kemaslahatan lingkungan dengan mendorong universitas atau penelitian yang menuju pada energi hijau atau energi terbarukan. Segala kerusakan dan kedzaliman yang terjadi dalam praktek pertambangan itu dilakukan oleh tangan manusia yang jauh dengan nilai ketakwaan, orang yang beriman seharusnya bisa mengedepankan spirit keadilan, karena adil itu dekat dengan takwa.