CEO Telegram, Pavel Durov, ditangkap oleh kepolisian Prancis pada Sabtu malam (25/8/2024) di Bandara Le Bourget, di utara Paris, setelah melakukan perjalanan dari Baku, Azerbaijan dengan jet pribadinya. Penangkapan Durov dilakukan berdasarkan permintaan otoritas Prancis, yang telah lama menjadikannya target. Kedutaan Besar Rusia di Prancis merespons cepat insiden ini, dengan para diplomatnya kini tengah mencari lebih banyak informasi terkait penangkapan tersebut.
Pejabat Prancis menyatakan bahwa penangkapan Durov berkaitan dengan dugaan pelanggaran yang dilakukan melalui platform Telegram. Meskipun belum ada rincian spesifik mengenai pelanggaran tersebut, penangkapan ini diduga terkait dengan penyelidikan polisi yang sedang berlangsung di Prancis, yang menyoroti kurangnya pengawasan atau penyensoran terhadap konten di Telegram. Kekhawatiran muncul bahwa platform ini mungkin menjadi sarana aktivitas kriminal yang tidak terkendali.
Menurut CBS News, OFMIN, sebuah badan yang bertugas mencegah kekerasan terhadap anak di bawah umur, telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Durov, mencurigainya terlibat dalam berbagai pelanggaran, termasuk penipuan, perdagangan narkoba, perundungan siber, kejahatan terorganisasi, dan promosi terorisme. Durov, yang memiliki kekayaan diperkirakan mencapai 15,5 miliar dolar AS menurut Forbes, diketahui memiliki beberapa kewarganegaraan, termasuk Prancis, Rusia, dan Uni Emirat Arab. Salah satu penyelidik menyatakan bahwa "Kekebalan hukum Telegram sudah cukup."
Telegram, yang didirikan oleh Durov bersama saudaranya pada 2013, telah menjadi salah satu platform media sosial utama dengan hampir satu miliar pengguna. Platform ini memiliki pengaruh besar di Rusia, Ukraina, dan negara-negara bekas Uni Soviet. Telegram juga menjadi salah satu dari sedikit media di Rusia yang memberikan akses ke berita independen tentang perang, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Durov telah dikenal karena konsistensinya dalam menolak tekanan dari pemerintah di seluruh dunia untuk menyensor konten atau memberikan akses ke pesan terenkripsi pengguna. Dia menegaskan bahwa Telegram akan tetap menjadi "platform netral" dan bukan "pemain dalam geopolitik."