leaderboard

Politik

Politik

Hasil Survei KISP: Generasi Muda Peduli Demokrasi, Namun Kritik Sistem Pemilu

Hasil Survei KISP: Generasi Muda Peduli Demokrasi, Namun Kritik Sistem Pemilu

Yogyakarta-Kelompok muda Indonesia dinilai bukan apatis terhadap demokrasi, namun justru semakin kritis terhadap kualitas sistem pemilu. Hal ini terungkap dalam Survei Respon dan Masukan Kelompok Muda terhadap Perbaikan Sistem Pemilu di Indonesia yang dirilis Komite Independen Sadar Pemilu (KISP) tahun 2026.

Survei terhadap 400 responden berusia 19–40 tahun dari berbagai daerah ini menunjukkan bahwa mayoritas pemilih muda masih menghadapi hambatan serius saat menggunakan hak pilih. Lebih dari 70 persen responden menyatakan tidak sepakat dengan pernyataan bahwa mereka dapat memilih tanpa hambatan, menandakan sistem pemilu belum sepenuhnya inklusif dan ramah bagi generasi muda.

Salah satu keluhan paling dominan adalah kompleksitas pemilu “lima kotak”. Sebanyak 143 responden mengaku kesulitan karena jumlah dan desain surat suara yang terlalu banyak, sehingga membebani pemilih secara kognitif. Kondisi ini dinilai berpotensi menurunkan kualitas pengambilan keputusan di bilik suara.

Selain persoalan teknis, survei juga menemukan masalah serius pada aspek keamanan dan kenyamanan. Sebanyak 94 responden menyatakan merasa tidak aman atau tidak nyaman di lingkungan tempat pemungutan suara (TPS). Faktor psikologis ini diperparah dengan rendahnya kepercayaan terhadap kandidat, yang dinilai “tidak meyakinkan” oleh 72 responden.

Temuan yang lebih mengkhawatirkan muncul pada praktik demokrasi di lapangan. Sekitar 6 dari 10 responden mengaku pernah menerima politik uang, sementara hampir 9 dari 10 responden menyatakan pernah mengalami tekanan atau intimidasi untuk memilih kandidat tertentu. Data ini menunjukkan bahwa persoalan integritas pemilu masih sangat nyata di tingkat akar rumput.

Penelitian ini menggunakan metode Computer-Assisted Self Interviewing (CASI) dengan teknik stratified random sampling. Mayoritas responden berasal dari kalangan pekerja swasta, mahasiswa, dan pekerja nonformal dengan latar pendidikan menengah hingga tinggi, serta didominasi wilayah urban dan semi-urban.

Tim peneliti KISP menyimpulkan bahwa rendahnya kepuasan pemilih muda bukan disebabkan oleh apatisme, melainkan oleh sistem pemilu yang dinilai belum adil, belum transparan, dan belum berorientasi pada pengalaman pemilih. Karena itu, survei ini merekomendasikan penyederhanaan surat suara, peningkatan keamanan TPS, penguatan edukasi pemilih, serta penindakan tegas terhadap politik uang dan intimidasi.

“Generasi muda ingin tetap terlibat dalam demokrasi, tetapi mereka menuntut sistem yang lebih jujur, sederhana, dan bermartabat,” demikian salah satu poin kesimpulan survei tersebut.


Hasil Rilis : Unduh

Bagikan:
Administrator

Administrator

HABARMU adalah portal berita terpercaya yang menyajikan berbagai informasi terkini, akurat, dan terverifikasi kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menghadirkan berita yang faktual, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga pembaca dapat memperoleh informasi yang jelas, relevan, dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan