YOGYAKARTA - Pelaksanaan Konsolidasi Nasional oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Sabtu-Ahad (27-28/07) di Yogyakarta menghasilkan keputusan penting terkait pengelolaan tambang yang ramah lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Keputusan tersebut melahirkan "RISALAH PLENO PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH TENTANG PENGELOLAAN TAMBANG YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT," di mana Muhammadiyah memutuskan menerima IUP yang ditawarkan oleh pemerintah.
Namun, keputusan ini mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan, termasuk dari seorang dokter yang telah bertahun-tahun mengabdi di Muhammadiyah, dr. Hafiza. Melalui akun Instagram-nya, dr. Hafiza mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
"Sebagai seorang dokter yang sudah bertahun-tahun mengabdikan diri kepada Muhammadiyah di salah satu AUM bidang Kesehatan tanpa digaji, rasanya cukup sampai di sini saja pengabdian saya untuk Persyarikatan. Selama ini saya berusaha untuk 'menghidupi' Muhammadiyah sebagaimana amanat Kiai Dahlan. Tapi jika memang Pimpinan Pusat memutuskan 'mencari hidup' dari tambang, izinkan saya untuk mengakhiri pengabdian saya di Muhammadiyah 🙏 Walau saya memang bukan siapa-siapa, saya hanya berharap semoga pengabdian saya selama ini untuk Persyarikatan selama ini tidak sia-sia 🙏," tulis dr. Hafiza.
Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini sebelumnya telah melalui proses pengkajian yang komprehensif dengan menerima masukan dari berbagai ahli pertambangan, ahli hukum, Majelis/Lembaga di lingkungan PP Muhammadiyah, pengelola/pengusaha tambang, ahli lingkungan hidup, perguruan tinggi, dan pihak-pihak terkait lainnya.
Tanggapan dari dr. Hafiza ini mencerminkan kekhawatiran sejumlah pihak terkait dengan pengelolaan tambang oleh Muhammadiyah, khususnya mengenai komitmen terhadap prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh pendiri Muhammadiyah, Kiai Dahlan. Respon dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah terhadap masukan dan kekhawatiran ini akan sangat dinantikan oleh anggota dan simpatisan Persyarikatan.